Minggu, 11 November 2012

Lingkungan Usaha Mikro dan Makro


LINGKUNGAN USAHA MIKRO DAN MAKRO

A. Sumber-Sumber Potensial Peluang
Sebagai seorang wirausaha, Anda harus secara terus-menerus melakukan evaluasi terhadap peluang-peluang usaha yang ada. Hal ini dilakukan supaya ide-ide usaha yang masih potensial menjadi peluang usaha yang riil. Melalui proses penyeleksian ide-ide usaha, maka Anda diharapkan dapat mengubah ide usaha yang masih potensial menjadi suatu produk atau jasa riil. Suryana (2003:58) mengemukakan langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menyeleksi ide usaha adalah sebagai berikut :

1) Menciptakan Produk Baru dan Berbeda
Pada saat ide usaha dimunculkan secara nyata dalam bentuk produk atau jasa baru, jelas produk atau jasa tersebut harus berbeda dengan produk atau jasa yang ada di pasar. Produk atau jasa  tersebut harus menciptakan nilai bagi pembeli, baik sebagai pelanggan maupun konsumen  potensial lainnya. Oleh karena itu, wirausaha harus benarbenar mengetahui perilaku konsumen di pasar. Dalam mengamati perilaku pasar, ada dua unsur pasar yang perlu diperhatikan. Pertama, permintaan terhadap barang atau jasa yang dihasilkan. Kedua, waktu  penyerahan dan waktu permintaan barang atau jasa. Seorang wirausaha yang sukses perlu menciptakan produk atau jasa unggul yang memberikan nilai kepada konsumen.  Apabila wirausaha baru memfokuskan pada suatu segmen pasar tertentu, maka secara khusus peluang itu akan sangat bergantung pada perilaku segmen pasar tersebut.
·         Kemampuan untuk meperoleh peluang itu sendiri sangat bergantung pada kemampuan wirausaha untuk menganalisis pasar yang meliputi aspek-aspek :
a) Kemampuan untuk menganalisis demografi pasar
b) Kemampuan untuk menganalisis sifat serta tingkah laku pesaing
c) Kemampuan untuk menganalisis keunggulan bersaing pesaing dan
kevakuman pesaing yang dianggap dapat menciptakan peluang.

B) Mengamati Pintu Peluang
Seorang wirausaha harus selalu mengamati potensi-potensi yang dimiliki pesaing, misalnya kemungkinan pesaing mengembangkan produk baru, pengalaman keberhasilan dalam mengembangkan produk baru, dukungan keuangan dan keunggulan-keunggulan yang dimiliki pesaing di pasar. Kemampuan pesaing untuk mempertahankan posisi pasar dapat dievaluasi dengan menggunakan kelemahan-kelemahan dan risiko pesaing dalam menanamkan modal barunya.
1.      Menganalisis Produk dan Proses Produksi Secara Mendalam
Analisis ini sangat penting untuk menjamin apakah jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan memadai atau tidak.
2.      Menaksir Biaya Awal.
Berapa besarnya biaya awal yang diperlukan oleh usaha baru ? Darimana sumbernya dan untuk apa digunakan ? Berapa yang diperlukan untuk operasi, untuk perluasan, dan untuk biaya lainnya?
3.      Memperhitungkan Risiko yang Mungkin Terjadi.
Beberapa risiko yang mungkin terjadi, misalnya risiko teknik, risiko finansial, dan risiko pesaing.
·         Risiko teknik berhubungan dengan proses pengembangan produk yang cocok dengan yang diharapkan atau menyangkut suatu objek penentu, apakah ide secara aktual dapat ditransformasi menjadi produk yang siap dipasarkan dengan kapabilitas dan karakteristiknya.
·         Risiko pesaing adalah kemampuan dan kesediaan pesaing untuk mempertahankan posisinya di pasar.
·         Risiko finansial adalah risiko yang timbul sebagai akibat ketidakcukupan finansial/dana baik dalam tahap mengembangankan produk baru maupun dalam menciptakan dan mempertahankan perusahaan untuk mendukung biaya produk baru.



C. Dalam Merintis Usaha baru
A.   Cara Memasuki Dunia Usaha
Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk memulai suatu usaha atau memasuki dunia usaha, yaitu:
1. Merintis usaha baru (starting), yaitu membentuk dan mendirikan usaha baru dengan menggunakan modal, ide, organisasi, dan manajemen yang dirancang sendiri. Ada tiga bentuk usaha baru yang dapat dirintis:
 a. Perusahaan milik sendiri (sole proprietorship), yaitu bentuk usaha yang dimiliki dan dikelola sendiri oleh seseorang,
b. Persekutuan (partnership), yaitu suatu ker a sama (asosiasi) dua orang atau lebih yang secara bersama-sama menjalankan usaha bersama.
c. Perusahaan berbadan hukum (corporation), yaitu perusahaan yang didirikan atas dasar badan hukum dengan modal saham-saham.

2. Membeli perusahaan orang lain (buying), yaitu dengan membeli perusahaan yang telah didirikan atau dirintis dan diorganisir oleh orang lain dengan nama (good will) dan organisasi usaha yang sudah ada.

3. Kerja sama manajemen (franchising), yaitu suatu kerja sama antara entrepreneur (franchisee) denga perusahaan besar (franchisor / parent compary) dalam mengadakan persetujuan jual-beli hak monopoli untuk menyelenggarakan usaha (waralaba). Kerja sama ini biasanya dengan dukungan awal seperti pemilihan tempat, rencana bangunan, pembelian peralatan, pola arus kerja, pemilihan karyawan, pembukuan, pencatatan dan akuntansi, konsultasi, penetapan standar, promosi, pengendalian kualitas, riset, nasihat hukum, dan sumber-sumber permodalan.

1.1  Merintis Usaha Baru

Pada bagian sebelumnya telah dikemukakan bahwa untuk memasuki dunia usaha (business) seseorang harus berjiwa wirausaha/Wirausaha adalah seorang yang mengorganisir, mengelola, dan memiliki keberanian menghadapi risiko/Sebagai pengelola dan pemilik usaha (business owner manager) atau pelaksana usaha kecil (small business operator), ia harus memiliki kecakapan untuk bekerja, kemampuan mengorganisir, kreatif, dan lebih menyukai tantangan.
Menurut Lambing ada dua pendekatan utama yang digunakan wirausaha untuk mencari peluang dengan mendirikan usaha baru: Pertama, pendekatan "inside-out" atau disebut dengan "idea generation", yaitu pendekatan berdasarkan gagasan sebagai kunci yang menentukan keberhasilan usaha. Mereka melihat keterampilan sendiri, kemampuan, latar belakang, dan sebagainya yang menentukan jenis usaha yang akan dirintis. Kedua, pendekatan "the out-side in" yang juga disebut "opportunity recognition ", yaitu pendekatan yang menekankan pada basis ide bahwa suatu perusahaan akan berhasil apabila menanggapi atau menciptakan suatu kebutuhan di pasar. Opportunity recognition tidak lain adalah pengamatan lingkungan (environment scanning) yaitu alat untuk pengembangan yang akan ditransfer menjadi peluang-peluang ekonomi. Berita-berita peluang tersebut menurut Lambing (2000: 92) bersumber dari:
(1) Surat kabar.
(2) Laporan perodik tentang perubahan ekonomi.
(3) Jurnal perdagangan dan pameran dagang.
(4) Publikasi pemerintah.
(5) Informasi lisensi produk yang disediakan oleh broker, universitas, dan perusahaan lainnya.

Menurut Lambing, keunggulan dari pendatang baru di pasar adalah dapat mengidentifikasi "kebutuhan pelanggan" dan "kemampuan pesaing".

Berdasarkan pendekatan "inside out" di atas, bahwa untuk memulai usaha, seorang calon wirausaha harus memiliki kompetensi usaha. Menurut Norman Scarborough, kompetensi usaha yang diperlukan meliputi:
(1) Kemampuan teknik, yaitu kemampuan tentang bagaimana memproduksi barangang dan jasa serta cara menyajikannya.
(2) Kemampuan pemasaran, yaitu kemampuan tentang bagaimana menemukan pasar dan pelanggan serta harga yang tepat.
(3) Kemampuan finansial, yaitu kemampuan tentang bagaimana memperoleh sumber- sumber dana dan cara menggunakannya.
(4) Kemampuan hubungan, yaitu kemampuan tentang bagaimana cara mencari, memelihara dan mengembangkan relasi, dan kemampuan komunikasi serta negosiasi.

Dalam memasuki arena bisnis atau memulai usaha baru, seorang dituntut tidak hanya memiliki kemampuan, tetapi juga harus memiliki ide dan kemauan. Seperti telah disinggung, bahwa ide dan kemauan tersebut harus diwujudkan dalam bentuk barang dan jasa yang laku di pasar.
Setelah ada ide, langkah berikutnya adalah mencari sumber dana dan fasilitas baik barang uang maupun orang. Sumber dana tersebut adalah berasal dari badan-badan di keuangan seperti bank dalam bentuk kredit atau orang yang bersedia menjadi penyandang dana. Tentu saja, barang dan jasa yang akan dijadikan objek bisnis tersebut harus memiliki pasar. Oleh karena itu, mengamati peluang pasar merupakan langkah yang harus dilakukan sebelum produk barang dan jasa diciptakan. Apabila peluang pasar untuk barang dan jasa sudah tersedia, maka barang dan jasa akan mudah laku dan segera mendatangkan keuntungan.
Dalam merintis usaha baru, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
(1) Bidang dan jenis usaha yang dimasuki.
(2) Bentuk usaha dan bentuk kepemilikan yang akan dipilih.
(3) Tempat usaha yang akan dipilih.
(4) Organisasi usaha yang akan digunakan.
(5) Jaminan usaha yang mungkin diperoleh.
(6) Lingkungan usaha yang akan berpengaruh.

Ø  Bentuk Usaha dan Bentuk Kepemilikan yang Akan Dipilih
Setelah menentukan bidang dan jenis usaha yang akan dipilih, langkah selanjutnya adalah menentukan bentuk kepemilikan usaha/Ada beberapa bentuk kepemilikan usaha,yang bisa dipilih, di antaranya:
1. Perusahaan Perorangan (soleproprietorship), yaitu suatu perusahaan yang dimiliki dan diselenggarakan oleh satu orang berlebihan dari bentuk perusahaan ini adalah mudah untuk didirikan, biaya operasi rendah, bebas dalam pengelolaan, dan memiliki daya rangsang yang lebih tinggi.
2. Persekutuan (partnership), yaitu suatu asosiasi yang didirikan oleh dua orang atau lebih yang menjadi pemilik bersama dari suatu perusahaan/Dalam persekutuan ada ada dua macam anggota, yaitu: (a) Sekutu Umum (general partner), yaitu anggota Yang aktif dan duduk sebagai pengurus persekutuan, (b) Sekutu terbatas (limited partner), yaitu anggota yang bertanggung jawab terbatas terhadap utang perusahaan sebesar modal yang disetorkannya dan orang tersebut tidak aktif dalam perusahaan.
3. Perseroan (corporation), yaitu suatu perusahaan yang anggotanya terdiri atas para pemegang saham (peserolstockholder) Yang mempunyai tanggung jawab terbatas terhadap utang-utang perusahaan sebesar modal disetor.
4. Firma, yaitu suatu persekutuan yang menjalankan perusahaan di bawah nama bersama./Bila untung, maka keuntungan dibagi bersama, sebaliknya bila rugi ditanggung bersama. Dalam firma terdapat tanggung jawab renteng antara anggota.

Ø  Tempat Usaha yang Akan Dipilih
Dalam menentukan tempat usaha harus, dipertimbangkan beberapa hal di bawah ini:
(1) Apakah tempat usaha tersebut mudah dijangkau oleh konsumen atau pelanggan atau pasar? Bagaimana akses pasarnya?
Apakah tempat usaha dekat ke Sumber tenaga kerja?
(3) Apakah dekat ke akses bahan baku dan bahan penolong lainnya seperti alat pengangkut dan jalan raya?
Dalam menentukan tempat usaha, perlu dipertimbangkan aspek efisiensi dan efektivitasnya. Lokasi perusahaan harus mudah dijangkau dan efisien baik bagi perusahaan maupun bagi konsumen/Untuk menentukan lokasi atau tempat usaha ada beberapa alternatif yang kita bisa pilih yaitu:
(1) Membangun bila ada tempat yang strategis.
(2) Membeli atau menyewa bila lebih strategic dan menguntungkan.
(3) Kerjasama bagi hasil, bila memungkinkan.







Gambar 11.2 merupakan lingkungan mikro dan makro yang sangat
berpengaruh terhadap jalannya perusahaan.


Sumber : Suryana, (2003), Kewirausahaan : Pedoman Praktis, Kiat dan Proses
Menuju Sukses, Edisi Revisi, Jakarta, Penerbit Salemba Empat.

D. Lingkungan Usaha
Lingkungan usaha tidak bisa diabaikan dengan begitu saja.Lingkungan usaha dapat menjadi pendorong maupun penghambat jalannya perusahaan. Lingkungan yang dapat mempengaruhi jalannya usaha/perusahaan adalah lingkungan mikro dan lingkungan makro.
(Suryana, 2003:75)

A.     Lingkungan Mikro
Lingkungan mikro adalah lingkungan yang berkaitan dengan opersional perusahaan, seperti pemasok, karyawan, pemegang saham, majikan, manajer, direksi, distributor, pelanggan/konsumen dan lainlain. Jika hal ini sejalan dengan pergeseran strategi pemasaran, yaitu dari laba perusahaan (shareholder) ke manfaat bagi stakeholder, maka lingkungan internal baik perorangan maupun kelompok yang mempunyai kepentingan pada perusahaan akan sangat berpengaruh. Yang termasuk perorangan, kelompok perorangan, kelompok yang berkepentingan terhadap perusahaan dan berharap kepuasan dari perusahaan (stakeholder satisfaction) di antaranya :

a.      Pemasok (supplier)
Pemasok berkepentingan dalam menyediakan bahan baku kepada perusahaan. Agar perusahaan dapat memuaskan pembeli/pelanggan, maka perusahaan tersebut harus memproduksi barang dan jasa yang bermutu tinggi. Hal ini bisa dicapai apabila bahan baku dari pemasokberkualitas, tepat waktu, dan cukup jumlahnya.

a.      Pembeli atau Pelanggan
Pembeli atau pelanggan merupakan lingkungan yang sangat berpengaruh karena dapat memberi informasi bagi perusahaan. Konsumen yang kecewa karena tidak memperoleh manfaat dari perusahaan, misalnya akibat mutu, harga, dan waktu yang tidak memadai akan cenderung untuk pindah dan berlangganan kepada perusahaan lain.

b.      Karyawan
Karyawan adalah orang pertama yang terlibat dalam perusahaan. Karyawan akan berusaha bekerja dengan baik apabila tamemperoleh manfaat dari perusahaan. Semangat kerja yang tinggi, pelayanan yang baik, dan produktivitas yang tinggi akan terjadi apabila mereka mendapat gaji yang cukup, masa depan yang terjamin dan kenaikan jenjang kepangkatan yang teratur. Jika tidak terjadi, maka karyawan akan bekerja kurang termotivasi, kurang produktif, kurang kreatif, dan akan merugikan perusahaan.

c.       Distributor
Distributor merupakan lingkungan yang sangat penting dalam perusahaan karena dapat memperlancar penjualan. Distributor yang kurang mendapat manfaat dari perusahaan akan menghambat pengiriman barang sehingga barang akan terlambat datang ke konsumen atau pasar.

B. Lingkungan Makro
Yang dimaksud dengan lingkungan makro adalah lingkungan di luar
perusahaan yang dapat mempengaruhi daya hidup perusahaan secara
keseluruhan, yang meliputi :

a.       Lingkungan Ekonomi/Inflasi
Adanya kekuatan ekonomi lokal, regional, nasional, dan global akanberpengaruh terhadap peluang usaha. Hasil penjualan dan biaya perusahaan banyak dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi. Variabelvariabel ekonomi, seperti tingkat inflasi, tingkat bunga, dan fluktuasi mata uang asing baik langsung maupun tidak akan berpengaruh padaperusahaan. Inflasi atau kenaikan harga-harga akan mempersulit para pengusaha dalam memproyeksikan usahanya.Demikian juga, kenaikan suku bunga dan fluktuasi mata uang asing akan menyulitkan
perusahaan dalam mengkalkulasi keuangannya.

b.      Lingkungan Teknologi
Kekuatan teknologi dan kecenderungan perubahannya sangat berpengaruh pada perusahaan. Perubahan teknologi yang secara drastis dalam abad terakhir ini telah memperluas skala industri secara keseluruhan. Teknologi baru telah menciptakan produk-produk baru dan modifikasi produk lainnya. Demikian juga, bidang usaha jasa telah banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi dalam menciptakan barang dan jasa telah mampu memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar secara cepat. Oleh karena itu, kemampuan pesaing untuk menciptakan nilai tambah secara cepat melalui perubahan teknologi harus diperhatikan oleh perusahaan tersebut.

c.       Lingkungan Sosiopolitik
Besarnya kekuatan sosial dan politik, serta kecenderungannya perlu diperhatikan untuk menentukan seberapa jauh perubahan tersebut berpengaruh pada tingkah laku masyarakat. Perubahan kekuatan politik berpengaruh terhadap perubahan pemerintahan dan secara tidak langsung berdampak pada perubahan ekonomi. Misalnya, adanya kekacauan politik dan kerusuhan yang terjadi selalu membawa sentimen pasar. Perubahan investasi pemerintah dalam bidang teknologi juga sangat berpengaruh pada kondisi ekonomi. Namun, lingkungan ini akan sangat bermanfaat apabila wirausaha pandai memanfaatkan peluang dari lingkungan tersebut. Kebijakan pemerintah (misalnya pelarangan menerima parcel bagi para pejabat) turut mempenagruhi perkembangan usaha.

d.      Lingkungan Demografi dan gaya Hidup
Banyak Produk barang dan jasa yang dihasilkan sering kali dipengaruhi oleh perubahan demografi dan gaya hidup/Kelompok-kelompok masyarakat, gaya hidup, kebiasaan, pendapatan, dan struktur masyarakat bisa menjadi peluang. Pada prinsipnya, semua lingkungan di atas isa menciptakan peluang bagi wirausaha.
Dari berbagai lingkungan seperti di ataslah peluang baru dalam bisnis diperoleh. Zimmerer (1996: 98) menganalisis peluang baru dari lingkungan tersebut dengan menyebutnya pengamatan lingkungan (environment scanning), yaitu suatu proses di mana semua sektor kritis lingkungan yang mempengaruhi perusahaan baru diamati, dievaluasi, distributor, dan diuji untuk menentukan pengaruh perubahan yang terjadi dalam lingkungan tersebut terhadap potensi perusahaan. Maksud dari proses pengamatan ini adalah untuk mengidentifikasi peluang-peluang baru atau tantangan baru yang tercipta akibat perubahan lingkungan.

Ø  Hambatan-Hambatan Dalam Memasuki Industri
Menurut Peggy Lambing (2000: 95) ada beberapa hambatan untuk memasuki industri baru, yaitu:
(1) Sikap dan Kebiasaan Pelanggan. Loyalitas pelangan kepada perusahaan baru masih kurang. Sebaliknya perusahaan yang sudah ada justru lebih bertahan karena telah lama mengetahui sikap dan kebiasaan pelanggannya.
(2) Biaya Perubahan (switching cost), yaitu biaya-biaya yang diperlukan untuk pelatihan kembali para karyawan, dan penggantian alat serta sistem yang lama.
(3) Respons dari pesaing yang ada yang secara agresif akan mempertahankan pangsa pasar yang ada.

Ø  Paten, Merek Dagang, dan Hak Cipta
Paten, merek dagang, dan hak cipta sangat penting bagi perusahaan terutama untuk melindungi penemuan-penemuan, identitas dan nama perusahaan, serta keorisinalan produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Banyak perusahaan yang tidak mengetahui pentingnya hak perlindungan perusahaan. Perlindungan produk-produk perusahaan sangat penting untuk menghindari usaha-usaha meniru dan menduplikasi yang dilakukan oleh pihak lain. Temuan yang tidak memiliki hak paten akan bebas ditiru dan diduplikasi bahkan menjadi produk pesaing dan mematikan perusahaan penemu.
Beberapa hak perlindungan perusahaan yang bisa diperoleh adalah hak paten, hak merek dagang, dan identitas perusahaan lainnya.

1.      Paten
Paten adalah suatu pengakuan dari lembaga yang berwewenang atas penemuan uk yang diberi kewenangan untuk membuat, men gunakan dan menjual penemuannya selama paten tersebut masih dalam jaminan/Pemberian hak monopoli rroduk tersebut dimaksudkan untuk mendorong kreativitas dan inovasi para penemu. Untuk mendapatkan hak paten, alat yang diciptakan harus betul-betul baru (bukan baik). Suatu alat tidak dapat diberikan hak paten apabila alat tersebut telah dipublikasikan sebelum mengajukan hak paten. Hak paten hanya diberikan kepada emu yang sebenarnya, bukan pada seseorang yang menemukan penemuan orang yang telah diberikan hak paten, tidak boleh diduplikasi dan dijual oleh siapa pun tanpa izin (lisensi) dari penemunya.
Ø  Ada beberapa langkah untuk mendapatkan paten, yaitu:
 1: Tetapkan Bahwa yang Ditemukan Betul-betul Baru
Untuk menetapkan bahwa sesuatu yang ditemukan betul-betul baru, penemu harus menganalisis dan menguji alat baru dengan menggunakan kriteria sebagai berikut: Apakah alat ini telah digunakan oleh orang lain, sebelum penemuan ini diajukan untuk mendapat hak paten?
(a) Apakah telah diberikan paten sebelum temuannya diajukan?
(b) Apakah telah digunakan, dipublikasikan, dan dijual sebelum diberikan tanggal hak paten?
(c) Bila ketiga kriteria tersebut telah dilakukan sebelum diberikan hak paten, maka penemuan itu akan kehilangan hak untuk memperoleh paten?

2: Dokumentasikan Alat yang Ditemukan Tersebut
Untuk melindungi hak paten dari klaim seseorang, maka penemuan harus memverifikasi ide-ide penemuan sebelum alat tersebut ditemukan, misalnya tanggal ide itu tersirat, penjelasan alat yang digunakan, dan gambaruya.

 3: Telusuri Paten-paten yang Telah Ada
Hal ini dilakukan untuk memverifikasi apakah sesuatu yang baru kita temukan itu telah ada atau memiliki kesamaan. Perlu diperiksa apakah alat yang ditemukan itu memiliki kesamaan dan telah memiliki hak paten.

4: Pelajari Hasil Telusuran
Penemu harus mempelajari hasil telusuran terlebih dahulu sebelum memutuskan mengajukan lamaran hak paten. Jika paten yang telah ada betul-betul seperti paten yang akan diusulkan, maka pihak yang berwewenang tidak akan menjamin hak paten bagi penemuan baru. Akan tetapi, meskipun alat yang kita temukan itu memiliki fungsi yang sama dengan alat yang ada, namun memiliki perbedaan dalam cara-cara dan macammacamnya, maka paten dapat dijamin.

5: Mengajukan Lamaran Paten yang berisi:
1.      Pernyataan yang memuat penemuan itu betul-betul asli.
2.       Deskripsi penemuan yang disebut spesifikasi dan batas penemuan yang disebut Maim, yang mengidentifikasi sifat-sifat penemuan baru.
3.       Gambar penemuan.

2.      Merek Dagang
Merek dagang (brand name) merupakan istilah khusus dalam perdagangan atau perusahaan/PV merek dagang pada umumnya berbentuk simbol, nama, logo, slogan, atau tempat dagang yang oleh perusahaan digunakan untuk menunjukkan keorisinilan produk atau untuk membedakannya dengan produk lain di pasar. Merek dagang (trademark) pada umumnya dijadikan simbol perusahaan di pasar. Untuk menetapkan merek, harus dipilih kata yang khas, mudah dikenal, diingat dan unik bagi pelanggan, sehingga menjadi merek terkepal.

3.      Hak Cipta
Hak cipta (copyright) adalah suatu hak istimewa guna melindungi pencipta dari keorisinilan ciptaannya Misalnya, karangan, musik, lagu, hak untuk memproduksi, memperbaiki, mendistribusikan atau menjual.

2.1  Membeli Perusahaan Orang Lain.

Banyak alasan mengapa seseorang memilih membeli perusahaan yang sudah ada daripada mendirikan atau merintis usaha baru, antara lain risiko lebih rendah, lebih mudah, dan memiliki peluang untuk membeli dengan harga yang bisa ditawar/Membeli perusahaan baru sedikit risikonya, karena kemungkinan gagal lebih kecil, sedikit waktu, dan tenaga yang diperlukan/Di samping itu, membeli perusahaan yang sudah adapun memiliki peluang harga yang relatif lebih rendah dibanding dengan merintis usaha baru. Namun demikian bahwa membeli perusahan yang sudah ada juga mengandung kerugian dart permasalahan baik eksternal dan internal:
v  Masalah eksternal, yaitu lingkungan misalnya banyaknya pesaing dan ukuran peluang pasar. Beberapa pertanyaan mendasar dalam menghadapi lingkungan eksternal ini, misalnya: apakah perusahaan yang dibeli memiliki daya saing harga di pasar, khususnya dalam harga dan kualitasnya? Bagaimana segmen pasarnya? Sejauh mana agresivitas pesaingnya? Apakah ada industri yang dominan? Bagaimana ukuran dan pertumbuhan pasarnya? Apakah ada perubahan teknologi yang dapat mempengaruhi perusahaan yang dibeli? Setiap pembelian perusahaan harus memperhatikan lingkungan yang mempengaruhinya.
v  Masalah-masalah internal, yaitu masalah-masalah yang ada dalam perusahaan, awalnya masalah image atau reputasi perusahaan. Misalnya masalah karyawan, masalah konflik antara manajemen dan karyawan yang sukar diselesaikan oleh konflik yang baru, masalah lokasi, dan masalah masa depan perusahaan lainnya. belum melakukan kontrak jual beli perusahaan yang akan dibeli, ada beberapa yang harus dipertimbangkan dan dianalisis oleh pembeli. Menurut Zimerer (1996) aspek-aspek itu meliputi:
(a) Pengalaman apa yang dimiliki untuk mengoperasikan perusahaan tersebut?
(b) Mengapa perusahaan tersebut berhasil tetapi kritis?
(c) Di mana lokasi perusahaan tersebut?
(d) Berapa harga yang rasional untuk membeli perusahaan itu?
(e) Apakah membeli perusahaan tersebut akan lebih menguntungkan daripada merintis sendiri usaha baru?
Tidaklah mudah untuk membeli perusahan-perusahaan yang sudah ada. Seorang berwirausaha yang akan membeli perusahaan selain harus mempertimbangkan di berbagai keterampilan, kemampuan, dan kepentingan pembelian perusahaan tersebut, pembeli juga harus memperhatikan sumber-sumber potensial perusahaan yang akan dibeli, di antaranya:
(a) Pedagang perantara penjual perusahaan yang akan dibeli.
(b) Bank investor yang melayani perusahaan.
(c) Kontak-kontak perusahaan seperti pemasok, distributor, pelanggan, dan yang lainnya yang erat kaitannya dengan kepentingan perusahaan yang akan dibeli.
(d) Jaringan kerja sama bisnis dan sosial perusahaan yang akan dibeli.
(e) Daftar majalah dan jurnal perdagangan yang digunakan oleh perusahaan yang akan dibeli.

Zimmerer tampak lebih eksplisit daripada Lambing tentang alasan mengapa seseorang membeli perusahaan. Menurutnya, ada lima hal kritis untuk menganalisis perusahaan yang akan dibeli, yaitu:
(a) Alasan pemilik menjual perusahaan. Apakah kekayaannya berbentuk nyata (tangible) atau tidak nyata (intangible)? Apakah masih prospektif dan layak guna (up-to-date) Berta efisien? Ada beberapa jenis kekayaan yang harus diperhatikan, misalnya tangible asset (peralatan daftar piutang, susunan leasing, business record), dan intangible asset (merek dagang, paten, hak cipta, goodwill), lokasi, dan penampilan.
(b) Potensi produk dan jasa yang dihasilkan. Potensi pasar apa yang dimiliki barang dan jasa yang dihasilkan? Ada dua aspek yang harus dianalisis, yaitu: (1) Komposisi dan karakteristik pelanggan, (2) Komposisi dan karakteristik pesaing yang ada.
(c) Aspek legal yang dimiliki perusahaan. Aspek legal yang harus dipertimbangkan, yaitu menyangkut prosedur pemindahan kekayaan dan balik nama dari penjual ke pembeli.
(d) Kondisi keuangan perusahaan yang akan dijual. Bagaimana kondisi keuangan perusahaan yang akan dijual tersebut apakah sehat atau tidak? Misalnya, bagaimana potensi keuntungan yang akan diperoleh? Bagaimana laporan rugi labanya selama lima tahun terakhir ini? Bagaimana pajak pendapatannya? Bagaimana kompensasi laba bagi pemilik?

2.2  Franchising (Kerja Sama Manajemen/Waralaba)

Franchising merupakan cara memasuki dunia usaha yang sangat populer di seluruh dunia. Produk-produk franchising telah menjadi produk global. Dealer-dealer mobil, motor, bahan bakar, dan alat rumah tangga lainnya berkembang di seluruh dunia. Format bisnis franchising telah memberikan fasilitas jasa yang lugs bagi para dealer (franchisee) seperti pemasaran, periklanan, pelatihan, standar produksi, dan pengerjaan manual, serta bimbingan pengawasan kualitas. Logo-logo dari usaha franchising terlihat di pusat-pusat perdagangan seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya, bahkan sampai kota-kota kecil lainnya.
Franchising merupakan kerja sama manajemen yang biasanya berkembang dalam perusahaan eceran.Seperti telah dikemukakanbahwa anchise adalah suatu persetujuan lisensi menurut hukum antara suatu perusahaan (pabrik) penyelenggara dengan penyalur atau perusahaan lain untuk melaksanakan usaha yang memberi lisensi franchisor dan penyalur disebut franchisee. Dalam franchising, perusahaan yang hak monopoli menyelenggarakan perusahaan seolah-olah merupakan bagian dari pemberi lisensi yang dilengkapi dengan nama produk, merek dagang dan zriur penyelenggaranya secara standar. Perusahaan induk (franchisor) mengizinkan franchisee untuk menggunakan nama, tempat/daerah, bimbingan, latihan karyawan, dan perbekalan material yang berlanjut. Dukungan awal meliputi salah satu keseluruhan dari aspek-aspek berikut ini:
Ø  Pemilihan tempat.
Ø  Rencana bangunan.
Ø  Pembelian peralatan.
Ø  Pola arus kerja.
Ø  Pemilihan karyawan.
Ø  Periklanan.
Ø  Grafik.
Ø  Bantuan pada acara pembukaan.
Selain dukungan awal, bantuan lain yang berlanjut dapat pula meliputi faktor-faktor sebagai berikut:
Ø  Pencatatan dan akuntansi.
Ø  Konsultasi.
Ø  Pemeriksaan dan standar.
Ø  Promosi.
Ø  Pengendalian kualitas.
Ø  Nasihat hukum.
Ø  Riset.
Ø  Material lainnya.

Dalam kerja sama franchising, perusahaan induk memberikan bantuan manajemen secara berkesinambungan. Keseluruhan citra (goodwill), pembuatan, dan teknik pemasaran diberikan kepada perusahaan franchisee. Tidak sedikit bentuk franchising yang dilakukan antar-negara, misalnya McDonald's, Kentucky Fried Chicken, Pizza Hut. Cola, Pepsi Cola, Hoka-hoka Bento, dan lain sebagainya. Bidang otomotif, misalnya dealer mobil dan motor, rental mobil, suku cadang, dan pompa bensin. Di bidang lain, bentuk kerja sama ini adalah di bidang elektronik, obat-obatan, dan hotel. Di negara-negara yang sudah maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa,franchising tumbuk cepat dan semakin meluas. Bidang-bidang yang perkembangannya cukup menonjol seperti rekreasi, hiburan, perjalanan, dan wisata dengan kenaikan 34,1%; jasa-jasa perusahaan 30,7%; akuntansi, kredit, agen pengumpul, dan jasa perusahaan umum 21,19%; percetakan dan foto kopi 20,8%; dan jasa-jasa lainnya. Di Indonesia, bentuk kerja sama yang mirip dengan franchising namun berbeda adalah "bapak angkat" atau "kemitraan".
Dalam kerja sama sistem bapak angkat atau kemitraan kebanyakan hanya diberikan bantuan permodalan, pemasaran, dan bimbingan usaha.
Dasar hukum dari penyelenggaran franchising adalah kontrak antara perusahaan franchisor dengan franchisee. Perusahaan induk dapat saja membatalkan perjanjian tersebut apabila perusahaan yang diajak kerja sama tersebut melanggar persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan dalam persetujuan.
Ø  Menurut Zimmerer (1996) keuntungan dari kerja sama franchising adalah:
1. Belatihan, pengarahan, dan pengawasan yang berlanjut dari franchisor.
2. diberikannya bantuan finansial. Biasanya biaya awal pembukaan sangat tinggi, sedangkan sumber modal dari perusahaan franchisee sangat terbatas.
3. Keuntungan dari penggunaan nama, merek, produk yang telah dikenal.

Ø  Sedangkan menurut Peggy Lambing (2000: 116-117), keuntungan franchising meliputi:
1. Bantuan awal yang memberi kemudahan, yaitu berupa jasa nasihat pemilihan lokasi, analisis fasilitas layout, bantuan keuangan, pelatihan manajemen, seleksi karyawan, dan bantuan pelatihan.
2. Basis untuk mempertimbangkan prospek keberhasilan, yaitu menyajikan prediksi dan pengujian tentang kemungkinan untuk menghasilkan keuntungan. Mendapat pengakuan yang segera, yaitu cepat dikenal karena sudah memiliki reputasi dan berpengalaman, misalnya, sebulan, seminggu, bahkan beberapa hari saja sudah dikenal
3. Daya beli. Karena merupakan bagian dari organisasi yang besar besar, maka pembayaran untuk pembelian bahan baku, peralatan, jasa asuransi akan relatif murah.
4. Cakupan periklanan dan pengalaman. periklanan secara nasional dengan pengalaman yang jauh lebih baik sehingga biaya periklanan menjadi sangat murah.
5. Perbaikan operasional. Sebagai bagian dari organisasi yang besar, usaha franchising memiliki metode yang lebih efisien dalam perbaikan proses produksi.

Ø  Namun adapun kegagalan dalam kerja sama franchisingyang diantaranya ialah karena sangat tergantung pada jenis usaha dan kecakapan para wirausaha. Kerugian yang mungkin terjadi menurut Zimmerer adalah:
1.  Program latihan tidak sesuai dengan yang diinginkan.
2.  Pembatasan kreativitas penyelenggaraan usaha franchisee.
3.  Franchisee jarang memiliki hak untuk menjual perusahaannya kepada pihak lain tanpa menawarkan terlebih dahulu kepada pihak franchisor dengan harga yang sama.
KESIMPULAN

Pada umunnya seorang wiraussha memenglah haruis dituntut utuk mampu berpikir secra positif dan kreatif agar mamapu menciptakan sebuah inovasi dari ide-ide yang telah muncul didalam benaknya.seorang wirausaha bukan hanya mampu untuk menjadi perencana namun harus mampu menjadi pencipta hal-hal baru didunia usaha .
Ide dan peluang merupakan dua unsur penting dalam kewirausahaan. Agar ide menjadi peluang, maka harus dievaluasi dengan cara screening (penjaringan), yaitu: (1) Ide harus ,dimunculkan dalam bentuk yang riil (barang dan jasa baru) yang berbeda di pasar. Barang dan jasa yang berbeda tersebut harus menciptakan nilai (efisiensi) baik bagi konsumen maupun pembeli potensial, (2) Mengamati pintu (asal usul) peluang, (3) Menjamin jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan, (4) Menaksir biaya awal, (5) Memperhitungkan risiko yang mungkin terjadi beberapa keadaan yang menciptakan peluang,serta banyak para wirausha yang telah berhasil yang mengemukakn pendapatnya seperti’’KESUKSESAN YANG SAYA RAIH HANYALAH 1% YANG DIKETAHUI OLEH ORANG LAIN.SEMENTARA  99% NYA IALAH KEGAGALAN YANG TIDAK  PERNAH  DIKETAHUI OLEH ORANG LAIN” ini merupakan bukti bahwa seorang wirausha harus memiliki sikap konsisten serta mampu dalam menghadapi segala resiko dan tantangan yang menghadang usahanya karena semakin sering kegagalan yang dialami oleh seoerang wirausaha maka kemuungkinan untuk suksesnya akan semakin besar pula dikemudian hari.dan inilah hasil dari makalah kami yang berjudul lingkungan usaha mikro dan makro semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua,dan apabila ada kesalahan kami mohon maaf karena kami hanyakah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.
Dan,kami ucapakan Terimakasih


































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar